Wisata Ditemani Roda Dua
Posted by Fredy Susanto on January 13, 2011
Menyewa mobil atau motor itu pilihan saat berlibur.
Tapi bersepeda jauh lebih murah, sehat dan menyenangkan.
Lepas maghrib, saya bersama empat rekan kerja mengendarai sepeda lipat (seli) menuju stasiun Gambir, mengejar kereta tujuan Solo yang bertolak pukul 20.00. Berangkat dari kantor, kawasan Jakarta Barat pukul 18.30—waktu yang menjengkelkan warga Jakarta karena lalu lintas macet. Namun kami berhasil mencapai tujuan pukul 19.00. Bayangkan, jarak tempuh 13 km hanya perlu 30 menit. Alokasikan waktu bila menggunakan mobil di jam padat yang sama. Perlu sekitar satu jam bahkan lebih.
Memasuki lobi stasiun, seli kami bawa dalam kondisi sudah dilipat—berdasar pengalaman, bila menuntun seli dalam wujud tidak terlipat ke dalam stasiun bakal ditegur oleh petugas. Pertimbangan kami membawa seli untuk berwisata adalah juga demi unsur kepraktisan di jalan. Sepeda memudahkan kami berkeliling destinasi wisata.
Namun membawa seli ke gerbong tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk menyelipkannya di antara kursi penumpang, perlu ilmu tersendiri. Jika bepergian tanpa rekan, seli dapat diletakkan di bagian ujung gerbong kereta yang memiliki ruang kosong. Bila bepergian berombongan, dengan jumlah rekan lebih dari 3 orang, usahakan untuk membeli tiket dengan posisi tempat duduk depan-belakang, sehingga seli dapat diselipkan di antaranya.
Sampai saat ini, kereta ekonomi Jabodetabek masih menoleransi penumpang yang membawa sepeda besar (seperti sepeda gunung atau roadbike) dalam gerbong penumpang. Tapi harus ditempatkan pada bagian gerbong paling ujung, agar tidak mengganggu penumpang lain. Untuk kereta jarak jauh, sepeda gunung diharuskan masuk gerbong barang. Tanyakan syaratnya lebih dulu kepada petugas sebelum memesan tiket, bahwa Anda bepergian membawa sepeda dan akan dimasukkan dalam gerbong barang.
Mintalah surat pengantar dari PT KAI yang ditandatangani atau dicap. Isinya menerangkan sepeda Anda ditempatkan dalam gerbong. Hal ini untuk menghindari tindakan oknum dalam kereta. Usahakan membalut sepeda dengan kardus bekas atau lembaran busa agar tidak tergores dan menguncinya untuk proteksi atau keamanan.
Jika memilih bus antarprovinsi, datanglah lebih awal ke terminal atau tempat keberangkatan untuk mengepak sepeda dengan rapi dalam bagasi. Lakukan pengecekan secara berkala saat bus berhenti di rest area, untuk memastikan sepeda tetap pada tempatnya.
Menurut Adrian Immanuel, seorang aktivis Bike to School yang pernah membawa sepeda gunung dalam bus jalur Jakarta - Solo, bagasi bus umumnya mampu menampung 3 sepeda gunung dalam keadaan kedua ban dilepas. “Tapi pihak terminal menyuruh agar kami mempaketkannya,” kisah Adrian yang pergi bersama tiga rekannya.
Memasukkan sepeda ke pesawat, umumnya tidaklah serumit kereta atau bis karena ada peraturan jelas mengenai bagasi. Timbanglah bobot sepeda dulu, agar dapat mengetahui kisaran harga atau kelebihan bobot yang mesti dibayarkan. Beberapa maskapai penerbangan ekonomis (low cost carrier) menawarkan layanan “hanya membayar bagasi sesuai bobot yang diperlukan.” Gunakan fasilitas ini dengan teliti. Catatan penting, kempiskan angin ban sekitar 50% untuk menghindari pecah akibat perbedaan tekanan udara.
Saat jam menunjukkan pukul 04.00, kereta kami sudah memasuki stasiun Solo Balapan. Kelebihan kami berpetualang dengan menggunakan sepeda adalah; kami tidak perlu pusing ada atau tidaknya angkutan menuju penginapan, bahkan di saat subuh sekalipun. Ditemani udara pagi Solo yang segar, petualangan kami langssung dimulai dengan memburu Gudeg Ceker Bu Kasno.
Bagaimana dengan Anda? Jika memiliki cerita atau pengalaman berwisata membawa sepeda dapat silakan share disini. Foto-foto: Fredy Susanto
Posted in Uncategorized | 6 Comments »



































