Wisata Ditemani Roda Dua


Posted by Fredy Susanto on January 13, 2011

Menyewa mobil atau motor itu pilihan saat berlibur.
Tapi bersepeda jauh lebih murah, sehat dan menyenangkan.

Menunggu kereta di stasiun Gambir

Menunggu kereta di stasiun Gambir

Lepas maghrib, saya bersama empat rekan kerja mengendarai sepeda lipat (seli) menuju stasiun Gambir, mengejar kereta tujuan Solo yang bertolak pukul 20.00. Berangkat dari kantor, kawasan Jakarta Barat pukul 18.30—waktu yang menjengkelkan warga Jakarta karena lalu lintas macet. Namun kami berhasil mencapai tujuan pukul 19.00. Bayangkan, jarak tempuh 13 km hanya perlu 30 menit. Alokasikan waktu bila menggunakan mobil di jam padat yang sama. Perlu sekitar satu jam bahkan lebih.

Memasuki lobi stasiun, seli kami bawa dalam kondisi sudah dilipat—berdasar pengalaman, bila menuntun seli dalam wujud tidak terlipat ke dalam stasiun bakal ditegur oleh petu­gas. Pertimbangan kami membawa seli untuk berwisata adalah juga demi unsur kepraktisan di jalan. Sepeda memudahkan kami berkeliling destinasi wisata.

Namun membawa seli ke gerbong tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk menyelipkannya di antara kursi penumpang, perlu ilmu tersendiri. Jika bepergian tanpa rekan, seli dapat diletakkan di bagian ujung gerbong ke­reta yang memiliki ruang kosong. Bila bepergian berombongan, dengan jumlah rekan lebih dari 3 orang, usahakan untuk membeli tiket dengan posisi tempat du­duk depan-belakang, sehingga seli dapat diselipkan di antaranya.

Sampai saat ini, kereta ekonomi Jabo­detabek masih menoleransi penumpang yang membawa sepeda besar (seperti sepeda gunung atau roadbike) dalam gerbong penumpang. Tapi harus ditempatkan pada bagian gerbong paling ujung, agar tidak mengganggu penumpang lain. Untuk kereta jarak jauh, sepeda gunung diharuskan masuk gerbong barang. Ta­nyakan syaratnya lebih dulu kepada petugas sebelum memesan tiket, bahwa Anda bepergian membawa sepeda dan akan dimasukkan dalam gerbong barang.

Mintalah surat pengantar dari PT KAI yang ditandatangani atau dicap. Isinya menerangkan sepeda Anda ditempatkan dalam gerbong. Hal ini untuk menghindari tindakan oknum dalam kereta. Usahakan membalut sepeda dengan kardus bekas atau lembaran busa agar tidak tergores dan menguncinya untuk proteksi atau keamanan.

Jika memilih bus antarprovinsi, da­tanglah lebih awal ke terminal atau tem­pat keberangkatan untuk mengepak se­peda dengan rapi dalam bagasi. Laku­kan pengecekan secara berkala saat bus berhenti di rest area, untuk memastikan sepeda tetap pada tempatnya.

Menurut Adrian Immanuel, seorang aktivis Bike to School yang pernah mem­bawa sepeda gunung dalam bus jalur Jakarta - Solo, bagasi bus umumnya mam­pu menampung 3 sepeda gunung da­lam keadaan kedua ban dilepas. “Tapi pi­hak terminal menyuruh agar kami mem­paketkannya,” kisah Adrian yang pergi bersama tiga rekannya.

Memasukkan sepeda ke pesawat, umum­nya tidaklah serumit kereta atau bis karena ada peraturan jelas mengenai ba­gasi. Timbanglah bobot sepeda dulu, agar dapat mengetahui kisaran harga atau kelebihan bobot yang mesti dibayarkan. Beberapa maskapai penerbangan eko­nomis (low cost carrier) menawarkan la­yanan “hanya membayar bagasi sesuai bo­bot yang diperlukan.” Gunakan fasilitas ini dengan teliti. Catatan penting, kem­piskan angin ban sekitar 50% untuk meng­­hindari pecah akibat perbedaan tekanan udara.

Saat jam menunjukkan pukul 04.00, kereta kami sudah memasuki stasiun Solo Balapan. Kelebihan kami berpetualang dengan menggunakan sepeda adalah; kami tidak perlu pu­sing ada atau tidaknya angkutan menuju penginapan, bahkan di saat subuh sekalipun. Ditemani udara pagi Solo yang segar, petualangan kami langssung dimulai de­ngan memburu Gudeg Ceker Bu Kasno.

Bagaimana dengan Anda? Jika memiliki cerita atau pengalaman berwisata membawa sepeda dapat silakan share disini. Foto-foto: Fredy Susanto

Sepeda lipat dapat diselipkan diantara dua kursi penumpang.

Sepeda lipat dapat diselipkan diantara dua kursi penumpang.

Membawa sepeda, memudahkan kami berwisata terutama saat berkeliling kota Yogyakarta.

Membawa sepeda, memudahkan kami berwisata terutama saat berkeliling kota Yogyakarta.


Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Bukan untuk Manusia


Posted by Fredy Susanto on August 24, 2010

Saya dan ribuan pesepeda di Jakarta mengalami hal lumrah jika bepergian ke pusat perbelanjaan atau pekantoran yang tidak “bersahabat” dengan si roda dua. Tiang, atau pagar biasanya menjadi benda penyelamat kami mengikat si roda dua agar tidak digondol orang yang tidak bertanggung jawab.

Saat membaca Kompas Senin 12 Oktober 2009 di Halaman 27, Memarkir Sepeda di Pusat Belanja, saya mengacungi jempol untuk Mall FX —yang menyediakan tempat parkiran sepeda. Parkir sepeda yang tidak diletakan di pojokan basement atau di belakang gedung yang terpencil, tetapi di sebelah lobi FX agar mudah diakses. Dilengkapi toilet dan kamar mandi di lantai 2 agar para pesepeda dapat membersihkan diri sebelum berjalan-jalan ke mall.

Jika bersepeda ke salah satu mall bergengsi di kawasan Senayan yang konon katanya area hijau, jangan lupa membawa kunci. Selain tidak menyediakan parkir sepeda, semua sepeda tidak diperbolehkan masuk ke area motor. Diikat di pembatas jalur lalu lalang adalah solusi yang mau tak mau harus Anda terima.

Jika bersepeda ke salah satu mall bergengsi di kawasan Senayan yang konon katanya area hijau, jangan lupa membawa kunci. Selain tidak menyediakan parkir sepeda, semua sepeda tidak diperbolehkan masuk ke area motor. Diikat di pembatas jalur lalu lalang adalah solusi yang mau tak mau harus Anda terima.

Mall di Jakarta jumlahnya banyak, namun yang menyediakan parkiran sepeda masih bisa dihitung dengan jari. Sungguh lucu jika melihat salah satu mall di Jakarta dengan konsep Go Green-nya dikampanyekan dimana-mana, bahkan membuat taman di dalamnya, lengkap dengan tempat sampah organik dan non organik si seluruh penjuru mall, tetapi mall tersebut tidak menyediakan parkiran sepeda.

Mengutip pernyataan Dhyanna Quintanar, Koordinator Strategi Mobilitas Sepeda Mexico City, “Kota didesain untuk mobil atau manusia?” Sebuah pertanyaan ironis untuk warga Jakarta, apakah kita lebih mementingkan pelebaran jalan daripada memperlebar trotar yang nyaman seperti di Jepang? Apakah kita lebih menyukai tempat parkir mobil yang luas daripada taman yang teduh? Kalau memang begitu, kita adalah warga yang tinggal di kota yang diciptakan untuk kendaraan bermotor, bukan untuk manusia.

Apakah jalur sepeda mampu membuat warga Jakarta beralih menggunakan sepeda? Jika diterapkan di kota yang serba rumit dan tidak disiplin seperti DKI sepertinya pesimis. Ini adalah foto saat UrbanFest 2009 di Ancol, di mana jalur sepeda Ancol begitu mudah dikorbankan demi parkir mobil padahal lahan parkir di sana luas dan memadai. Bukti sekalipun jalur sepeda dibuat tanpa disiplin dan pengawasan adalah sia-sia.

Apakah jalur sepeda mampu membuat warga Jakarta beralih menggunakan sepeda? Jika diterapkan di kota yang serba rumit dan tidak disiplin seperti DKI sepertinya pesimis. Ini adalah foto saat UrbanFest 2009 di Ancol, di mana jalur sepeda Ancol begitu mudah dikorbankan demi parkir mobil padahal lahan parkir di sana luas dan memadai. Bukti sekalipun jalur sepeda dibuat tanpa disiplin dan pengawasan adalah sia-sia.

Jalur pedestrian dan trotoar adalah hak bagi warga negara yang membayar pajak. Malang nasib pejalan kaki di Jakarta, haknya direbut oleh kaki lima, sepeda motor, bahkan dijadikan parkir mobil dan tak jarang diambil untuk pelebaran jalan. Jika kota ini dibangun untuk manusia maka pejalan kakilah yang seharusnya mendapatkan posisi terhormat, bahkan dari pesepeda sekalipun.

Jalur pedestrian dan trotoar adalah hak bagi warga negara yang membayar pajak. Malang nasib pejalan kaki di Jakarta, haknya direbut oleh kaki lima, sepeda motor, bahkan dijadikan parkir mobil dan tak jarang diambil untuk pelebaran jalan. Jika kota ini dibangun untuk manusia maka pejalan kakilah yang seharusnya mendapatkan posisi terhormat, bahkan dari pesepeda sekalipun.


Posted in Uncategorized | 18 Comments »

Bocah-bocah Pengingat Kembali


Posted by Fredy Susanto on August 23, 2010

Selesai sudah Pekan Raya Jakarta 2010 tanpa ada kesempatan sama sekali bagi saya untuk mengunjunginya. Sewaktu kecil, saat ke PRJ bersama orangtua saya, adalah masa yang selalu mengingatkan saya akan ondel-ondel, kerak telur, dan kembang api. Sekilas meskipun tidak begitu ingat namun selalu terbayang keramaian malam PRJ dengan musik daerah betawi yang diputar melalui pengeras suara di sana-sini lengkap dengan ondel-ondel yang berkeliling mengajak anak-anak untuk foto bersama.

Dua tahun yang lalu, saya menjejakkan kaki di tempat dan acara yang sama— Pekan Raya Jakarta 2008. Tujuan kala itu mencari sebuah sepeda untuk mobilisasi saya ke kantor. Itulah pertama kalinya saya membeli sepeda dengan uang sendiri untuk memulai kegiatan bike to work. Sepeda lipat ukuran ban 16 inchi berwarna silver—yang kini telah dijual.

Saat itu sebagai warga Jakarta yang sudah bertahun-tahun tidak pernah mendatangi Pekan Raya Jakarta, saya begitu kaget karena PRJ 2008 yang saya lihat tidak seperti PRJ di masa saya kecil. Ondel-ondel yang dulu membuat saya takut, dan musik betawi seperti jali-jali bergaung melalui speaker, kini telah digantikan dengan para SPG yang berseliweran lengkap dengan musik “ajeb-ajeb” yang berbeda di tiap-tiap stand.

PRJ saat itu begitu modern, tidak seperti pasar rakyat yang dahulu begitu penuh kesenian betawi. Sembari menenteng sepeda baru, saat hendak keluar dari arena PRJ, saya menyempatkan diri untuk membeli kerak telur. Ah…setidaknya saya masih bisa mendapatkan kerak telur.

Minggu 25 April 2010. Pagi hari di Jalan Sudirman, saya dan ribuan pesepeda yang berniat menikmati Car Free Day (CFD) pagi itu kaget dengan tumpahnya manusia di sepanjang jalan Jendral Sudirman hingga Thamrin. Karena Car Free Day hari itu bersamaan dengan perayaan Hardiknas yang menampilkan tari massal yang diikuti ribuan siswa siswi SD hingga SMA sejabodetabek.

Jakarta kala itu bagaikan pasar tumpah yang diperkaya dengan kesenian, olahraga, hingga konser mini. Di satu sisi saya agak dongkol karena tidak leluasa bersepeda akibat hampir separuh badan jalan dipakai untuk berbagai acara, namun di sisi lain CFD hari itu terasa sangat spesial dengan pertunjukan bocah-bocah yang kembali mengenalkan kesenian betawi yang sudah terlupakan.

Alih-alih bersepeda, saya lebih mengutamakan foto-foto dan mencari makan. Kerak Telor adalah daftar buruan wajib. Biasanya jika ada acara yang berbau khas betawi pasti ada kerak telor. Dimulai menuntun sepeda dari depan FX hingga akhirnya saya menemukan penjual kerak telor yang sedang berjualan tepat di depan hotel Le Meridien.

Terasa dejavu, menuntun sepeda hingga akhirnya mendapatkan sebuah kerak telur. Bedanya, kenangan PRJ jaman saya kecil didapatkan saat saya bersepeda di hari Car Free Day, bukan di PRJ. Semua karena bocah-bocah yang mengingatkan kembali mengenai kebudayaan Betawi yang terlupakan. Bocah-bocah yang mengingatkan kembali masa kecil saat jalan ke PRJ bersama keluarga.

Saya tidak tahu jenis tarian ini, tapi gerakannya lucu dan kocak.

Saya tidak tahu jenis tarian ini, tapi gerakannya lucu dan kocak.


Akhirnya dapat juga kerak telur

Akhirnya dapat juga kerak telur




Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Bersepeda dalam Kesunyian


Posted by Fredy Susanto on July 15, 2010

Gerakan Bersepeda dalam Kesunyian atau disebut juga “Ride of Silence” pertama kali diadakan di Texas tahun 2003. Adalah Chris Phelan pesepeda yang mengorganisir gerakan ini untuk mengenang temannya Larry Schwartz yang meninggal karena terhantam spion bus sekolah. Semenjak itu, Ride of Silence menyebar ke banyak negara, menjadi seremoni tahunan yang diselenggarakan untuk mengenang para pesepeda yang tewas atau terluka di jalan raya.

Tiga point utama yang membuat gerakan ini semakin meluas, pertama untuk mengenang pesepeda yang menjadi korban di jalan raya, kedua mengingatkan kembali pesepeda mengenai perlunya kehati-hatian dalam berkendara di jalan raya, dan ketiga untuk mengkampanyekan kepada pengendara kendaraan bermotor mengenai perlunya kepedulian berbagi jalan dengan para pesepeda dan saling menjaga keamanan bersama.

Di pagi kelabu tepat tanggal 12 Juni 2010, Rombongan Kereta Berseli (Rocketers)yang terdiri dari 14 orang mengadakan perjalanan bersepedanya menuju Bogor. Tepat di kawasan Gunung Sindur, Bogor. Empat iring-iringan truk melaju kencang dari arah yang berlawanan. Nasib naas itu terjadi saat truk yang paling belakang berusaha mendahului yang lainnya dengan memakan jalur pesepeda dari arah berlawanan. Adi Nagara yang masih berumur 27 tahun— saat itu bersepeda di pinggir jalan terhantam spion truk dengan kecepatan tinggi. Hari itu menjadi hari kelabu bagi para seluruh komunitas pesepeda di Indonesia. Adi Nagara menjadi salah satu korban karena kelalaian pengguna jalan lainnya. Masih banyak Adi Nagara lainnya yang harus meregang nyawa di lalu lintas.

Pagi ini, saat saya membaca detik.com kembali terulang seorang pesepeda tertabrak kereta api di Palmerah Selatan (http://www.detiknews.com/read/2010/07/15/112720/1399664/10/pengendara-sepeda-tertabrak-ka-lalu-lintas-palmerah-macet?n991103605). Sampai saat tulisan ini saya turunkan belum diketahui kronologi pasti mengapa pesepeda itu bisa tertabrak kereta api. Ini bukan tulisan menghakimi kesalahan sesorang atau pihak lain, tetapi tulisan yang mengingatkan kita semua bahwa apapun itu kendaraan kita, disiplin dan saling menghormati pemakai jalan sangat diperlukan. Biarkan ini menjadi pembelajaran kita semua.

Fredy Susanto

Lilin-lilin untuk mengenang Adi Nagara dan korban pesepeda lainnya. Ride of Silence yang diadakan Bike to Work pada tanggal 18 Juni 2010.—Foto: Fredy Susanto


Posted in Uncategorized | 5 Comments »

Setahun Perjuangan sang Pelajar


Posted by Fredy Susanto on May 3, 2010

“Kasian paru-paru generasi muda kita”, itulah salah satu komentar pembaca pada salah satu arikel mengenai Bike To School di sebuah website berita online.Pada awalnya, bahkan hingga sekarang beragam tanggapan mengenai Bike to School masih tetap terdengar, baik dari yang mendukung maupun yang menentang. Umumnya mereka yang menentang adalah para orang tua yang khawatir akan kondisi jalanan dan polusi udara di Ibukota.

Di hari Minggu pada tanggal 3 mei 2009 tepat di depan Museum Sejarah Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan terbentuknya Bike to School. Sebuah komunitas pesepeda yang digawangi oleh para pelajar. Sama seperti sesepuhnya—Bike to Work, misinya adalah untuk menyebarkan virus bersepeda sebagai transportasi sehari-hari kepada para pelajar yang lain. Mungkin beberapa dari kita masih mengalami jaman bersepeda untuk pergi ke sekolah, baik itu di masa lalu ataupun di masa sekarang. Tetapi bagaimana dengan generasi muda yang umumnya tinggal di daerah perkotaan di masa kini?

Kita tidak bisa memaksa atau menyalahkan mereka yang menggunakan mobil atau motor untuk transportasi pergi dan pulang sekolah. Kondisi jalan, perilaku pengguna jalan yang lain, polusi udara, sampai cuaca yang terik, semuanya tidak mendukung bersepeda yang nyaman seperti kota-kota maju lainnya di dunia.

Ini tentu saja bukan tulisan mengenai benar atau salah, tetapi tujuan saya menulis ini adalah mengenai kekaguman saya terhadap segelintir pelajar yang meskipun mereka mungkin memiliki motor atau mobil tetapi mereka masih menyempatkan diri menggunakan sepeda sebagai transportasi ke sekolah meskipun tidak setiap hari. Ini mengenai kekaguman saya bahwa mereka berasal dari sekolah yang berbeda-beda kemudian saling mengenal dan berteman, tidak seperti segelintir pelajar yang lebih suka tawuran. Ini mengenai kekaguman saya, meskipun mereka berasal dari golongan ekonomi yang berbeda-beda, tetapi mereka tidak pernah pandang bulu dan bersatu untuk menularkan virus bersepeda kepada pelajar-pelajar yang lain.

Singkat kata, “Selamat ulang tahun Bike to School! Tetap perjuangkan prinsip yang telah kalian pegang selama ini.

Bike to School bersama mantan Menristek Kusmayanto Kadiman (ujung kanan).

Bike to School bersama mantan Menristek Kusmayanto Kadiman (ujung kanan).

Bike to School saat berkumpul di Bundaran HI

Bike to School saat berkumpul di Bundaran HI

Bersama beberapa anggota Bike to School saat offroaddi telaga warna.

Bersama beberapa anggota Bike to School saat offroad di telaga warna.


Posted in Uncategorized | 5 Comments »

Selamat Menikmati Bundaran


Posted by Fredy Susanto on February 15, 2010

Bagi Anda warga Jakarta, pernahkah Anda mencelupkan kaki anda di dinginnya air mancur Bundaran HI? Atau bergaya di zebra cross Bundaran HI seperti di Abbey Road? Mungkin kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di dalam Mall yang terdapat di sekeliling HI, tanpa pernah menikmati Bundaran HI itu sendiri.

Coba luangkan waktu Anda di setiap hari Minggu di akhir bulan, karena dari jam 06.00-12.00 Jalan Jendral Sudirman (depan Ratu Plaza) hingga MH.Thamrin (Monas) tertutup untuk kendaraan bermotor dalam rangka Car free Day atau hari bebas kendaraan bermotor. Sebaiknya menikmati ruas Sudirman hingga Thamrin dengan menggunakan sepeda. Jika Anda membawa keluarga dan tidak ingin bersepeda dari rumah, dapat membawa mobil, parkir di FX, atau Gelora Bung Karno, kemudian mulai bersepeda dari sana.

Bagi yang tidak membawa sepeda? Tidak masalah, sekedar jogging dan jalan kaki merupakan alternatif, karena busway tetap beroperasi dan memudahkan Anda menuju HI, Thamrin, atau Monas sekalipun. Sempatkan untuk wisata kuliner di Jalan Sabang, atau Menteng. Selamat Menikmati Bundaran!

Bundaran HI menjadi ruang terbuka umum. Bermain bola, piknik, hingga sekedar foto, sebuah wisata yang tidak akan Anda dapatkan di hari biasa

Bundaran HI menjadi ruang terbuka umum. Bermain bola, piknik, hingga sekedar foto, sebuah wisata yang tidak akan Anda dapatkan di hari biasa


Berbagai jenis sepeda ada di sini, termasuk lowrider yang ekstrim seperti ini.

Berbagai jenis sepeda ada di sini, termasuk lowrider yang ekstrim seperti ini.

Asiknya bersepeda bersama keluarga. Lupakan Mall, jauh lebih menyenangkan berolahraga bersama.

Asiknya bersepeda bersama keluarga. Lupakan Mall, jauh lebih menyenangkan berolahraga bersama.

Komunitas sepeda Ontel biasanya berkumpul di depan Grand Hyatt

Komunitas sepeda Ontel biasanya berkumpul di depan Grand Hyatt


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Cinderella Jalanan


Posted by Fredy Susanto on February 1, 2010

Sudah lama sekali frame sepeda balap tua itu teronggok di gudang rumah. Sedari saya kecil frame itu sudah ada di sana, karatan dan tidak tahu akan diapakan. Itu adalah sepeda balap tua pemberian dari teman Ayah saya yang bahkan mereknya saja saya lupa ( karena tidak sempat saya foto). Semenjak fork sepeda itu patah, otomatis nasibnya menjadi salah satu penghuni gudang rumah kami. Mungkin suatu saat akan berakhir di tangan tukang loak. Sampai sebulan lalu Imam, dari redaksi Ridebike mengajak saya membuat sepeda fixie dengan budget murah meriah (maksimal 1,5 juta), terbersit ide untuk membangun kembali si buruk rupa yang teronggok di gudang ini menjadi cantik kembali.

Fixie (fixed gear), yang artinya sepeda dengan sistem gear roda belakang mati. Sistem ini biasa disebut doltrap atau roda gila, kemana pun roda berputar pedal akan mengikutinya baik itu maju ataupun mundur. Sepeda yang menggunakan doltrap dapat berjalan mundur jika digowes terbalik, sistem ini dimiliki oleh rodeo (sepeda roda satu) dan becak. Jadi untuk rem, kita harus memundurkan pedal sekuat mungkin. Kelemahan dari doltrap adalah saat sepeda melaju dengan kencang, pedal akan berputar sama kencangnya hingga akan susah untuk diberhentikan. Sepeda fixie jenis ini biasanya dilengkapi rem depan.

Seiring dengan selera dan kesukaan sepeda fixie dimodifikasi dengan mengunakan torpedo. Torpedo lebih mudah digunakan dibandingkan doltrap, karena saat ban berputar pedal tidak ikut berputar kecuali jika digowes, dan jika digowes mundur akan mengunci roda sehingga berhenti.

Ada juga hub dengan sistem flip flop. Ini merupakan sistem doltrap dan torpedo dalam satu hub yang dapat diubah-ubah sesuai keinginan hanya dengan membalikkan ban (wheel set).

Jenis hub yang dipakai sepeda pada umumnya di dunia menggunakan jenis free wheel . Jika digowes maju maka roda akan maju, jika digowes mundur tidak berpengaruh terhadap putaran roda, dan menggunakan rem untuk menghentikan roda.

Mengapa diubah menjadi fixie? Mengapa tidak dijadikan sepeda balap saja? Itulah salah satu pertanyaan teman saya. Alasannya karena membangun fixie jauh lebih murah dan tidak memerlukan spare part mahal, berbeda jika saya membangun sepeda balap dengan part yang berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Bagaimana mengeremnya? Dengan digowes mundur. Itulah ciri khas sepeda fixie, dalam hal ini kita harus terbiasa mengerem sepeda dengan digowes mundur, namun demi keamanan tidak ada salahnya juga menambahkan rem depan.
Mengapa single speed? karena torpedo, atau pun doltrap tidak dapat menggunakan cassete sebagai salah satu syarat sepeda multispeed, (meskipun ada internal hub 3 speed yang menggunakan sistem torpedo) selain itu, karena sepeda fixie bersifat minimalis. Bersih tanpa ada kabel sedikit pun.
Mengapa harus merakit sendiri? Karena jauh lebih murah jika kita merakit sendiri. Beberapa merek sepeda seperti Specialized atau Giant mengeluarkan sepeda fixie yang harganya terlampau mahal dibandingkan jika kita merakitnya sendiri dari sepeda tua yang anggarannya dapat diatur sesuai kemampuan kita.
Haruskah dari frame sepeda balap?Pada umumnya iya, tetapi frame sepeda gunung pun dapat diubah menjadi fixie. Karena sepeda fixie akan terlihat cantik menggunakan pelek 700 (pelek sepeda balap), maka lebih mudah jika awalnya dimodifikasi dari sepeda balap.
Apakah harus dari frame besi? Karena umumnya sepeda fixie dimodifikasi dari sepeda tua yang masih terbuat dari besi agar mudah untuk di las dan dibentuk, lagipula sangat sayang jika Anda memiliki frame balap dengan bahan alumunium atau karbon diubah menjadi fixie (lebih baik tetap menjadi sepeda balap).
Amankah memakai fixie? Carilah bengkel fixie yang berpengalaman. Sepeda fixie meskipun ringan namun tidak dirancang untuk kecepatan. Selain karena single speed, doltrap atau torpedo agak susah jika harus rem mendadak, karena itulah demi keamanan dapat menambahkan rem depan. Frame sepeda fixie juga tidak sekuat sepeda gunung saat menghajar lubang dengan kecepatan tinggi. Jika ingin kecepatan, Anda lebih baik memakai sepeda balap.

Frame karatan itu pun akhirnya diangkut ke salah satu bengkel sepeda fixie di daerah Kebayoran Lama. Bengkel yang awalnya bengkel vespa ini, belakangan menjadi bengkel sepeda fixie karena banyaknya permintaan. Dengan dimodifikasi frame dan di cat ulang, kemudian saya membeli beberapa part sepeda dengan harga miring di Taman Sari, total pengeluaran hanya sekitar Rp.1.200.000,-.

Bagi Anda yang memiliki sepeda tua yang sudah karatan, ada baiknya jangan dibuang dahulu. Anda dapat membangunnya kembali menjadi sebuah sepeda cantik yang baru. Beberapa web galeri menampilkan sepeda fixie bisa menjadi referensi anda seperti: http://www.myfixedgear.net/ atau http://charikichi.tumblr.com/ galeri wanita Jepang dengan sepeda fixienya.

Fixie pun siap ditunggangi. Komunitas fixie di Indonesia pun bermunculan, biasanya sering berkumpul di daerah Menteng (Jakarta Pusat) atau di Bundaran HI. Sepeda yang dulunya buruk rupa, kini telah berubah menjadi Cinderella yang cantik.

Frame yang sudah di dempul dan diberi cat dasar

Frame yang sudah di dempul dan diberi cat dasar

Part sepeda murah meriah yang dibeli di Tamansari

Part sepeda murah meriah yang dibeli di Tamansari


Sepeda fixie pun siap ditunggangi

Sepeda fixie pun siap ditunggangi

Sepeda fixie saya di depan Hotel Nikko

Sepeda fixie saya di depan Hotel Nikko


Posted in Uncategorized | 32 Comments »

Bom Waktu di balik Keindahan Puncak


Posted by Fredy Susanto on January 4, 2010

Saat bersepeda di Puncak dengan udara gunungnya yang begitu sejuk, melewati jalur offroad diantara pucuk-pucuk daun teh, dan jalan-jalan perkampungan yang kadang diapit villa mewah terasa sungguh menyenangkan. Namun saat memasuki kawasan perbatasan dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, saya merasakan aura yang berbeda.

Kawasan Gunung Gede-Pangrango begitu megah dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi, dan suara ngengat yang melengking di siang hari. Inilah wajah sebenarnya dari pegunungan yang kini kian dirusak dengan menjamurnya villa, restoran, factory outlet, maupun perumahan yang pembangunannya tidak memperhatikan tata ruang, struktur tanah, maupun vegetasi alaminya.

Di perbatasan Taman Nasional Gede-Pangrango, pohon-pohon besar yang berdiameter lebih dari 50 cm seperti pzuspa, rasamala, atau damar masih kerap dijumpai. Pohon-pohon besar dengan akar kuat yang didesain untuk hidup di pegunungan agar menahan tanah dan menyerap air sehingga mencegah longsor. Sayangnya pohon-pohon ini semakin jarang terlihat di area pemukiman padat Puncak. Masyarakat kelas atas lebih suka membangun villa mewah yang pekarangannya ditutupi rerumputan untuk bermain golf dan dihiasi dengan pohon palem yang eksotik. Masyarakat sekitar lebih suka menanam pisang ataupun sayuran tanpa memberikan sepetakpun untuk pohon ukuran besar. Perkebunan teh tidak menyelingi perkebunannya dengan pohon-pohon berakar kuat untuk mencegah longsor.

Pohon teh (Camelia sinensis) mungkin mampu menahan tanah agar tidak terjadi erosi dari gerusan air. Tapi bagaimana dengan guncangan gempa? Masih segar dalam ingatan kita saat longsor di Cianjur memakan korban jiwa diakibatkan gempa. Apa yang terjadi jika episentrum gempa terjadi di Jawa Barat yang terkenal akan tanahnya yang labil?

Terakhir saat bersepeda di Puncak, melewati area pemukiman di dekat Taman Safari, saya takjub melihat villa mewah yang dibangun diantara rumah penduduk. Villa bergaya minimalis yang berada di lereng itu berundak-undak seperti sebuah terasering. Saya sempat bertanya kepada teman saya, “Apakah disini bisa longsor? Mengapa orang berani membangun vila di lereng yang begitu terjal?”

Tuhan menciptakan pohon-pohon ukuran besar untuk hidup di gunung karena memang pohon-pohon itu mampu menahan tanah jika terjadi gempa vulkanik. Akarnya yang dalam berfungsi menahan air mencegah kekeringan, mencegah erosi agar humus tetap menyuburkan tanah, dan yang terpenting untuk mencegah longsor yang dapat memakan korban jiwa. Ini adalah pelajaran anak SD yang sudah dilupakan manusia dewasa karena dibutakan oleh uang. Selama ini hujan mungkin tidak membuatnya longsor, tetapi bagaimana dengan guncangan gempa? Jika tidak dibenahi, Puncak bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu akan memakan korban jiwa yang begitu banyak.

Inilah vegetasi alami puncak yang seharusnya.

Inilah vegetasi alami puncak yang seharusnya.


Posted in Uncategorized | 10 Comments »

Kabar Baik dari Menegpora


Posted by Fredy Susanto on December 7, 2009

Andi Mallarangeng meresmikan parkir sepeda.

Andi Mallarangeng meresmikan parkir sepeda.

Foto bersama Andi Mallarangeng

Foto bersama Andi Mallarangeng

Senang rasanya jika bersepeda kini telah menjadi perhatian para pejabat, terutama sekelas menteri. Kini, tidak hanya kantor dan pusat perbelanjaan yang dilengkapi parkir sepeda, kantor-kantor pemerintahan pun satu persatu mulai menyadari pentingnya keberadaan parkir sepeda. Selain kantor menristek, kini gedung Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang berada di Senayan juga dilengkapi dengan parkir sepeda.

Jumat 4 Desember 2009, Andi bersama beberapa komunitas sepeda seperti Bike to Work, Kompas Gramedia Cyclist, dan Onthel Batavia, bersepeda dari rumah dinasnya menuju gedung Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Acara dilanjutkan dengan pemberian sepeda lipat keluaran khusus Bike to Work oleh Toto Sugito kepada Andi sebagai simbolis sepeda pertama yang diparkir disana.

” Saya senang bersepeda meskipun tidak tiap hari ke kantor menggunakan sepeda, tiap kali dinas ke daerah dan bertemu pejabat disana selalu ditawari, mau naik sepeda Pak?.” Ucap Andi saat memberikan sambutan. Andi Mallarangeng memang dikenal aktif dalam komunitas Bike to Work, beliau sering mengikuti kegiatan yang diadakan Bike To Work semenjak menjabat jubir presiden. Semoga semangat bersepeda ini akan terus menjalar ke kantor-kantor pemerintahan yang lain, Salam gowes!!


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Menikmati Sepeda di Cilacap (4) Keliling Kota Cilacap


Posted by Fredy Susanto on September 17, 2009

Para nelayan melaut di pagi hari

Para nelayan melaut di pagi hari

Tata ruang kota begitu teratur. Pusat perbelanjaan berada dalam satu kompleks hingga memudahkan turis.

Tata ruang kota begitu teratur. Pusat perbelanjaan berada dalam satu kompleks hingga memudahkan turis.

Alun-alun kota, dengan latar belakang Masjid Agung Darussalam Cilacap

Alun-alun kota, dengan latar belakang Masjid Agung Darussalam Cilacap

Di tengah pusat kota, jalan yang lenggang dan tertib membuat saya jatuh cinta bersepeda di Cilacap.

Di tengah pusat kota, jalan yang lenggang dan tertib membuat saya jatuh cinta bersepeda di Cilacap.

Di pusat kota Cilacap

Di pusat kota Cilacap

Beton penghalang ombak yang dimanfaatkan sebagai jalur joging.

Beton penghalang ombak yang dimanfaatkan sebagai jalur joging.

Satu hal yang saya sukai dari Cilacap adalah tata kotanya yang rapi. Trotoar selalu ada di sepanjang jalan dan dirawat bersih, jalan-jalan lebar tanpa ada lubang dan lengang dari kendaraan bermotor. Sayangnya di kota ini saya tidak menemukan rental sepeda, padahal jika disinergikan, turis-turis yang datang menggunakan kereta akan mudah mengelilingi kota Cilacap mengunakan sepeda. Bagi saya kota ini tidak memerlukan rental kendaraan bermotor, mengingat luasnya yang tidak seberapa dan berada di tepi pantai.

Di hari kedua, pagi-pagi buta pantai Kemiren dipenuhi warga yang berolahraga. Bagi Anda yang memiliki asma, udara segar dari Samudra Hindia obat yang sepertinya mujarab. Beberapa hari sebelum berangkat ke Cilacap saya sempat didera batuk dan sakit tenggorokan, hebatnya begitu pulang dari Cilacap seketika juga sembuh, padahal tidak meminum obat sedikit pun.


Posted in Uncategorized | 9 Comments »