Archive for August, 2009

Menikmati sepeda di Cilacap (2) Soto Sungeb di Purwokerto

Posted by Fredy Susanto on 14th August 2009

Warung Soto Sungeb 1 dan penampilan si sroto yang membuat saya kangen Purwokerto.

Warung Soto Sungeb 1 dan penampilan si sroto yang membuat saya kangen Purwokerto.

Purwokerto, ini pertama kalinya saya memijak kaki di kota kelahiran Mayangsari. Jalan-jalan sekitar stasiun lengang dan tertib meskipun matahari serasa memelototi kepala kami, rasa senang ini membuat lupa panas di atas ubun-ubun kepala. Deretan becak diparkir rapi di depan stasiun, sekilas tampak satu dua angkot yang lalu lalang tanpa ngetem merajalela. Udara di kota ini masih begitu bersih mengingatkan betapa sumpeknya paru-paruku menghirup asap hitam pekat di ibukota.

Hei….kami tidak akan memulai perjalanan sebelum mengisi “‘bahan bakar”. Karena sudah terlebih dahulu survei sana sini, kami langsung menuju ke tempat makan yang terkenal di kota ini.

Soto Sungeb 1, warung yang khusus menyajikan soto sukoraja ini—yang biasa disingkat sroto terletak di Jl. Bank yang sebenarnya bernama Jl.RA.Wirjaatmaja, namun lebih terkenal dengan Jalan Bank karena adanya Museum Bank di ujung jalan ini. Soto Sungeb 1 lah yang asli didirikan oleh Pak Sungeb pelopor warung sroto di jalan ini. Kami sempat terkecoh karena ada beberapa warung sroto sejenis yang sebenarnya sama saja karena beberapa diantaranya dijalankan oleh generasi penerus Pak Sungeb.

Soto Sungeb 1 ini terletak di samping gang kecil. Bangunannya tidaklah besar mungkin luasnya sekitar 4m x 12m dengan bentuk bangunan yang memanjang ke belakang. Papan namanya berhasil menjadi identitas visual warung ini bagi orang yang pertama kali datang ke Purwokerto seperti kami.

“Lima sotonya Pak!” Ucap teman saya tanpa berbasa-basi usai memarkir sepeda. Warung sroto ini selalu ramai, untungnya saat itu tidak begitu ramai dan masih ada beberapa tempat duduk yang kosong.

“Wahh..” Kata pertama yang keluar dari mulut saya saat pertama kali melihat hidangan sroto di atas meja. Dengan potongan mie kuning yang dilengkapi irisan daging sapi dan ayam kampung. Tidak lupa ditaburi daun bawang, bawang goreng dan potongan kerupuk kecil berbentuk seperti mie, dan kerupuk biasa yang berwarna merah jambu membuat penampilan sroto semakin aduhai. Saat mulai mengaduk, di bagian bawahnya terdapat potongan lontong, inilah pertama kali saya menyantap perpaduan lontong dengan soto. Kuahnya sendiri begitu gurih perpaduan antara kaldu ayam dan sapi yang begitu sempurna. Bagaimana dengan sambalnya??? Si pemedas lidah ini tampil berbentuk seperti sambal pecel yang terbuat dari kacang diolah halus berpadu dengan rempah dan cabai.

This is manna from heaven.” Saya tidak berlebihan, semua teman saya sepakat dengan kelezatan soto ini saat bersentuhan dengan lidah. Di tetesan kuah terakhir, perut ini masih menjerit serasa tak puas. Empat dari total lima peserta rombongan kami sepakat tambah seporsi lagi, saya salah satunya.

Puas mengisi “bahan bakar”, kami bersiap-siap untuk memulai perjalanan menuju Cilacap. Sroto memulai manis perjalanan ini.

Bersambung…

Posted in Uncategorized | 10 Comments »

Menikmati sepeda di kota Cilacap (1)

Posted by Fredy Susanto on 12th August 2009

“Tempat teroris!!” Itulah perkataan spontan yang keluar dari mulut teman saat tahu saya hendak berwisata sepeda di Cilacap. Siapa sangka kota yang pernah ternoda sebagai tempat persembunyian teroris yang paling dicari seantero negeri ini ternyata menyimpan keindahan alam (terutama pantai) yang tak kalah dengan Pantai Kuta di Bali.

Perjalanan saya dimulai dengan menaiki kereta dari stasiun Gambir. Kereta Purwojaya yang berangkat dari Gambir pada pukul 05.45. Bersama dengan teman-teman jumlah total kami berlima, kami menggunakan sepeda lipat atas nama kepraktisan untuk dibawa ke dalam kereta. Berangkat pada pukul 05.45, sekitar pukul 12.30 kami tiba di stasiun Purwokerto. Stasiun itu terlihat rapih dan bersih dengan warna tembok kuning mencolok. Beberapa pedagang menjajakan makanannya dengan rapih dan menyapa dengan sopan. Sebuah tabiat yang tidak saya temukan di stasiun-stasiun kota Jakarta.

” Salah turun Pak, ini masih Purwokerto. Belum sampai Cilacap!” Begitulah kata salah seorang pedagang yang mengetahui kami hendak ke Cilacap.

” Iya Pak, kami emang sengaja turun disini, mo gowes sampai Cilacap.” Jawab saya.

“Gowes sampai Cilacap??” Jawab pedagang itu sambil terbengong-bengong melihat sepeda kami.

Memang itulah rencananya turun di Purwokerto, dan gowes sampai Cilacap yang menurut GPS sekitar 54 kilo. Beberapa orang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu tahu rencana kami, beberapa terlihat penasaran dan memperhatikan kami sibuk melepaskan seni origami sepeda lipat. Senang rasanya terbebas dari jeratan tempat duduk kereta selama 6 jam, dengkul ini rasanya tidak sabar untuk mengayuh pedal.

Bersambung…

Posted in Uncategorized | 2 Comments »