Menikmati sepeda di kota Cilacap (1)
Posted by Fredy Susanto on August 12, 2009
“Tempat teroris!!” Itulah perkataan spontan yang keluar dari mulut teman saat tahu saya hendak berwisata sepeda di Cilacap. Siapa sangka kota yang pernah ternoda sebagai tempat persembunyian teroris yang paling dicari seantero negeri ini ternyata menyimpan keindahan alam (terutama pantai) yang tak kalah dengan Pantai Kuta di Bali.
Perjalanan saya dimulai dengan menaiki kereta dari stasiun Gambir. Kereta Purwojaya yang berangkat dari Gambir pada pukul 05.45. Bersama dengan teman-teman jumlah total kami berlima, kami menggunakan sepeda lipat atas nama kepraktisan untuk dibawa ke dalam kereta. Berangkat pada pukul 05.45, sekitar pukul 12.30 kami tiba di stasiun Purwokerto. Stasiun itu terlihat rapih dan bersih dengan warna tembok kuning mencolok. Beberapa pedagang menjajakan makanannya dengan rapih dan menyapa dengan sopan. Sebuah tabiat yang tidak saya temukan di stasiun-stasiun kota Jakarta.
” Salah turun Pak, ini masih Purwokerto. Belum sampai Cilacap!” Begitulah kata salah seorang pedagang yang mengetahui kami hendak ke Cilacap.
” Iya Pak, kami emang sengaja turun disini, mo gowes sampai Cilacap.” Jawab saya.
“Gowes sampai Cilacap??” Jawab pedagang itu sambil terbengong-bengong melihat sepeda kami.
Memang itulah rencananya turun di Purwokerto, dan gowes sampai Cilacap yang menurut GPS sekitar 54 kilo. Beberapa orang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu tahu rencana kami, beberapa terlihat penasaran dan memperhatikan kami sibuk melepaskan seni origami sepeda lipat. Senang rasanya terbebas dari jeratan tempat duduk kereta selama 6 jam, dengkul ini rasanya tidak sabar untuk mengayuh pedal.
Bersambung…
August 13th, 2009 at 12:47 pm
kang pred, ayo buruan disambung. nggak sabar bacanya, nih :)
~arie dan cindy~
September 14th, 2009 at 11:49 pm
Tuh bagian kedua dan ketiganya udah publish :)