Posted by Fredy Susanto on 17th September 2009

Para nelayan melaut di pagi hari

Tata ruang kota begitu teratur. Pusat perbelanjaan berada dalam satu kompleks hingga memudahkan turis.

Alun-alun kota, dengan latar belakang Masjid Agung Darussalam Cilacap

Di tengah pusat kota, jalan yang lenggang dan tertib membuat saya jatuh cinta bersepeda di Cilacap.

Di pusat kota Cilacap

Beton penghalang ombak yang dimanfaatkan sebagai jalur joging.
Satu hal yang saya sukai dari Cilacap adalah tata kotanya yang rapi. Trotoar selalu ada di sepanjang jalan dan dirawat bersih, jalan-jalan lebar tanpa ada lubang dan lengang dari kendaraan bermotor. Sayangnya di kota ini saya tidak menemukan rental sepeda, padahal jika disinergikan, turis-turis yang datang menggunakan kereta akan mudah mengelilingi kota Cilacap mengunakan sepeda. Bagi saya kota ini tidak memerlukan rental kendaraan bermotor, mengingat luasnya yang tidak seberapa dan berada di tepi pantai.
Di hari kedua, pagi-pagi buta pantai Kemiren dipenuhi warga yang berolahraga. Bagi Anda yang memiliki asma, udara segar dari Samudra Hindia obat yang sepertinya mujarab. Beberapa hari sebelum berangkat ke Cilacap saya sempat didera batuk dan sakit tenggorokan, hebatnya begitu pulang dari Cilacap seketika juga sembuh, padahal tidak meminum obat sedikit pun.
Posted in Uncategorized | 8 Comments »
Posted by Fredy Susanto on 16th September 2009
Setelah menempuh 54 kilometer dari Purwokerto, akhirnya kami pun sampai di gerbang kota Cilacap. Senang, ditambah semangat karena kaki ini terasa tidak sabar menyentuh Pantai Kemiren yang terkenal di Cilacap. Saat itu hari sudah senja, mungkin sekitar jam 17.00 WIB. Udara di Cilacap saat itu terasa dingin, karena pada musim-musim tertentu angin dari samudra Hindia membawa suhu dingin.


Pantai Kemiren begitu sepi, pantai publik yang begitu indah, tidak kalah dengan Kuta.
Pantai Kemiren begitu indah, pasirnya memang lebih hitam karena banyak mengandung besi. Sepanjang mata ini memandang, garis pantai tidak dikapling-kapling seperti di Anyer. 100% merupakan pantai publik yang dinikmati oleh masyarakatnya. Sungguh ironis mengingat di Jakarta sendiri masyarakatnya tidak bisa menikmati pantai publik secara gratis, kehilangan haknya sebagai masyarakat yang hidup di pesisir.

Pembangkit listrik Cilacap, yang terletak di dekat Kemiren.
Jika anda berkunjung ke Cilacap, pastikan untuk singgah di Teluk Penyu yang tidak jauh dari pantai Kemiren. Karena letaknya di teluk, ombaknya relatif lebih tenang. Teluk Penyu merupakan pusat wisata pantai Cilacap, disini banyak restoran
seafood, toko cinderamata dan jasa penyebrangan menuju Nusakambangan. Untuk menyebrang ke Nusakambangan cukup merogoh kocek Rp.10.000,-.
Karena hari sudah larut, kami memutuskan untuk kembali ke pantai ini besok, dan bergegas menuju ke hotel.
Bersambung….
Posted in Uncategorized | No Comments »
Posted by Fredy Susanto on 11th September 2009

Pemandangan di tepi Sungai Serayu
Di tepinya Sungai Serayu
Waktu fajar menyingsing
Pelangi merona warnanya
Nyiur melambai-lambai
Warna air sungai nan jernih
Beralun berkilauan
Sepenggal lirik lagu “Di Tepinya Sungai Serayu” mengiang-ngiang di kepala sembari saya menikmati pemandangan yang persis digambarkan dalam lirik lagunya. Berhulu di dataran tinggi Dieng, membelah beberapa daerah seperti Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap, Serayu menjadi urat nadi kehidupan bagi daerah yang dilaluinya.
Roda ini terus berputar, kaki ini terus mengayuh, mata ini terus memandang, dan hati ini terus bergumam betapa indahnya Serayu. Saat berada di atas jembatan, kami menepi sesaat untuk mengambil gambar. Saat itu Sungai Serayu berwarna kehijauan, airnya tenang tanpa arus. Di beberapa tempat tampak beberapa penambang pasir bergulat di bawah teriknya matahari.
Saat bersepeda beberapa kilometer saya mengerem kembali roda, karena tercengang terbentuknya delta di tengah sungai bagaikan pulau kecil yang ditumbuhi pohon rindang. Sebagai warga Jakarta saya sangat iri, bahkan terkesan norak melihat sungai yang begitu indah (karena berhenti dan berfoto-foto ria), maklum semenjak saya dilahirkan di Jakarta saya tidak pernah melihat sungai yang airnya begitu jernih dan bersih di kota kelahiran saya.
Bagi anda yang bersepeda dari Purwokerto menuju Cilacap, bersiaplah disambut pemandangan indah sungai Serayu. Jalur yang kami lewati cenderung sepi meskipun tetap harus berhati-hati karena adanya truk penambang pasir dan bus antarkota. Terutama di sepanjang Serayu jalan berkelok-kelok mengikuti bukit dan aliran sungai membuat tikungan jalan begitu tajam. Kondisi jalan sangat bagus, jarang terlihat lubang. Jangan lupa membawa GPS untuk mencari jalur alternatif. Perjalanan menuju Cilacap masih panjang dan terima kasih Serayu telah menemani perjalanan ini.
Bersambung….
Posted in Uncategorized | 5 Comments »