Archive for January, 2010

Bom Waktu di balik Keindahan Puncak

Posted by Fredy Susanto on 4th January 2010

Saat bersepeda di Puncak dengan udara gunungnya yang begitu sejuk, melewati jalur offroad diantara pucuk-pucuk daun teh, dan jalan-jalan perkampungan yang kadang diapit villa mewah terasa sungguh menyenangkan. Namun saat memasuki kawasan perbatasan dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, saya merasakan aura yang berbeda.

Kawasan Gunung Gede-Pangrango begitu megah dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi, dan suara ngengat yang melengking di siang hari. Inilah wajah sebenarnya dari pegunungan yang kini kian dirusak dengan menjamurnya villa, restoran, factory outlet, maupun perumahan yang pembangunannya tidak memperhatikan tata ruang, struktur tanah, maupun vegetasi alaminya.

Di perbatasan Taman Nasional Gede-Pangrango, pohon-pohon besar yang berdiameter lebih dari 50 cm seperti pzuspa, rasamala, atau damar masih kerap dijumpai. Pohon-pohon besar dengan akar kuat yang didesain untuk hidup di pegunungan agar menahan tanah dan menyerap air sehingga mencegah longsor. Sayangnya pohon-pohon ini semakin jarang terlihat di area pemukiman padat Puncak. Masyarakat kelas atas lebih suka membangun villa mewah yang pekarangannya ditutupi rerumputan untuk bermain golf dan dihiasi dengan pohon palem yang eksotik. Masyarakat sekitar lebih suka menanam pisang ataupun sayuran tanpa memberikan sepetakpun untuk pohon ukuran besar. Perkebunan teh tidak menyelingi perkebunannya dengan pohon-pohon berakar kuat untuk mencegah longsor.

Pohon teh (Camelia sinensis) mungkin mampu menahan tanah agar tidak terjadi erosi dari gerusan air. Tapi bagaimana dengan guncangan gempa? Masih segar dalam ingatan kita saat longsor di Cianjur memakan korban jiwa diakibatkan gempa. Apa yang terjadi jika episentrum gempa terjadi di Jawa Barat yang terkenal akan tanahnya yang labil?

Terakhir saat bersepeda di Puncak, melewati area pemukiman di dekat Taman Safari, saya takjub melihat villa mewah yang dibangun diantara rumah penduduk. Villa bergaya minimalis yang berada di lereng itu berundak-undak seperti sebuah terasering. Saya sempat bertanya kepada teman saya, “Apakah disini bisa longsor? Mengapa orang berani membangun vila di lereng yang begitu terjal?”

Tuhan menciptakan pohon-pohon ukuran besar untuk hidup di gunung karena memang pohon-pohon itu mampu menahan tanah jika terjadi gempa vulkanik. Akarnya yang dalam berfungsi menahan air mencegah kekeringan, mencegah erosi agar humus tetap menyuburkan tanah, dan yang terpenting untuk mencegah longsor yang dapat memakan korban jiwa. Ini adalah pelajaran anak SD yang sudah dilupakan manusia dewasa karena dibutakan oleh uang. Selama ini hujan mungkin tidak membuatnya longsor, tetapi bagaimana dengan guncangan gempa? Jika tidak dibenahi, Puncak bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu akan memakan korban jiwa yang begitu banyak.

Inilah vegetasi alami puncak yang seharusnya.

Inilah vegetasi alami puncak yang seharusnya.

Posted in Uncategorized | 7 Comments »