<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Putaran Roda</title>
	<atom:link href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id</link>
	<description>Kayuh sepeda untuk lingkungan</description>
	<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 05:47:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bersepeda dalam Kesunyian</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/bersepeda-dalam-kesunyian/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/bersepeda-dalam-kesunyian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 05:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan Bersepeda dalam Kesunyian atau disebut juga &#8220;Ride of Silence&#8221; pertama kali diadakan di Texas tahun 2003. Adalah Chris Phelan pesepeda yang mengorganisir gerakan ini untuk mengenang temannya Larry Schwartz yang meninggal karena terhantam spion bus sekolah. Semenjak itu, Ride of Silence menyebar ke banyak negara, menjadi seremoni tahunan yang diselenggarakan untuk mengenang para pesepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/ros_logo.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/ros_logo-261x300.jpg" alt="" width="261" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-508" /></a>Gerakan Bersepeda dalam Kesunyian atau disebut juga &#8220;Ride of Silence&#8221; pertama kali diadakan di Texas tahun 2003. Adalah Chris Phelan pesepeda yang mengorganisir gerakan ini untuk mengenang temannya Larry Schwartz yang meninggal karena terhantam spion bus sekolah. Semenjak itu, Ride of Silence menyebar ke banyak negara, menjadi seremoni tahunan yang diselenggarakan untuk mengenang para pesepeda yang tewas atau terluka di jalan raya.</p>
<p>Tiga point utama yang membuat  gerakan ini semakin meluas, pertama untuk mengenang pesepeda yang menjadi korban di jalan raya, kedua mengingatkan kembali pesepeda mengenai perlunya kehati-hatian dalam berkendara di jalan raya, dan ketiga untuk mengkampanyekan kepada pengendara kendaraan bermotor mengenai perlunya kepedulian berbagi jalan dengan para pesepeda dan saling menjaga keamanan bersama.</p>
<p>Di pagi kelabu tepat tanggal 12 Juni 2010, Rombongan Kereta Berseli (Rocketers)yang terdiri dari 14 orang mengadakan perjalanan bersepedanya menuju Bogor. Tepat di kawasan Gunung Sindur, Bogor. Empat iring-iringan truk melaju kencang dari arah yang berlawanan. Nasib naas itu terjadi saat truk yang paling belakang berusaha mendahului yang lainnya dengan memakan jalur pesepeda dari arah berlawanan. Adi Nagara yang masih berumur 27 tahun— saat itu bersepeda di pinggir jalan terhantam spion truk dengan kecepatan tinggi. Hari itu menjadi hari kelabu bagi para seluruh komunitas pesepeda di Indonesia. Adi Nagara menjadi salah satu korban karena kelalaian pengguna jalan lainnya. Masih banyak Adi Nagara lainnya yang harus meregang nyawa di lalu lintas.</p>
<p>Pagi ini, saat saya membaca detik.com kembali terulang seorang pesepeda tertabrak kereta api di Palmerah Selatan (<strong>http://www.detiknews.com/read/2010/07/15/112720/1399664/10/pengendara-sepeda-tertabrak-ka-lalu-lintas-palmerah-macet?n991103605</strong>). Sampai saat tulisan ini saya turunkan belum diketahui kronologi pasti mengapa pesepeda itu bisa tertabrak kereta api. Ini bukan tulisan menghakimi kesalahan sesorang atau pihak lain, tetapi tulisan yang mengingatkan kita semua bahwa apapun itu kendaraan kita, disiplin dan saling menghormati pemakai jalan sangat diperlukan. Biarkan ini menjadi pembelajaran kita semua.</p>
<div id="attachment_504" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/35396_431203230134_532470134_5555636_889854_n.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/35396_431203230134_532470134_5555636_889854_n.jpg" alt="Fredy Susanto" width="500" height="375" class="size-full wp-image-504" /></a><p class="wp-caption-text">Lilin-lilin untuk mengenang Adi Nagara dan korban pesepeda lainnya. Ride of Silence yang diadakan Bike to Work pada tanggal 18 Juni 2010.—Foto: Fredy Susanto</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/bersepeda-dalam-kesunyian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Setahun Perjuangan sang Pelajar</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/setahun-perjuangan-sang-pelajar/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/setahun-perjuangan-sang-pelajar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 14:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Kasian paru-paru generasi muda kita&#8221;, itulah salah satu komentar pembaca pada salah satu arikel mengenai Bike To School di sebuah website berita online.Pada awalnya, bahkan hingga sekarang beragam tanggapan mengenai Bike to School masih tetap terdengar, baik dari yang mendukung maupun yang menentang. Umumnya mereka yang menentang adalah para orang tua yang khawatir akan kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/a.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/a-300x225.jpg" alt="" width="320" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-479" /></a></p>
<p>&#8220;Kasian paru-paru generasi muda kita&#8221;, itulah salah satu komentar pembaca pada salah satu arikel mengenai Bike To School di sebuah website berita online.Pada awalnya, bahkan hingga sekarang beragam tanggapan mengenai Bike to School masih tetap terdengar, baik dari yang mendukung maupun yang menentang. Umumnya mereka yang menentang adalah para orang tua yang khawatir akan kondisi jalanan dan polusi udara di Ibukota.</p>
<p>Di hari Minggu pada tanggal 3 mei 2009 tepat di depan Museum Sejarah Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan terbentuknya Bike to School. Sebuah komunitas pesepeda yang digawangi oleh para pelajar. Sama seperti sesepuhnya—Bike to Work, misinya adalah untuk menyebarkan virus bersepeda sebagai transportasi sehari-hari kepada para pelajar yang lain. Mungkin beberapa dari kita masih mengalami jaman bersepeda untuk pergi ke sekolah, baik itu di masa lalu ataupun di masa sekarang. Tetapi bagaimana dengan generasi muda yang umumnya tinggal di daerah perkotaan di masa kini? </p>
<p>Kita tidak bisa memaksa atau menyalahkan mereka yang menggunakan mobil atau motor untuk transportasi pergi dan pulang sekolah. Kondisi jalan, perilaku pengguna jalan yang lain, polusi udara, sampai cuaca yang terik, semuanya tidak mendukung bersepeda yang nyaman seperti kota-kota maju lainnya di dunia. </p>
<p>Ini tentu saja bukan tulisan mengenai benar atau salah, tetapi tujuan saya menulis ini adalah mengenai kekaguman saya terhadap segelintir pelajar yang meskipun mereka mungkin memiliki motor atau mobil tetapi mereka masih menyempatkan diri menggunakan sepeda sebagai transportasi  ke sekolah meskipun tidak setiap hari. Ini mengenai kekaguman saya bahwa mereka berasal dari sekolah yang berbeda-beda kemudian saling mengenal dan berteman, tidak seperti segelintir pelajar yang lebih suka tawuran. Ini mengenai kekaguman saya, meskipun mereka berasal dari golongan ekonomi yang berbeda-beda, tetapi mereka tidak pernah pandang bulu dan bersatu untuk menularkan virus bersepeda kepada pelajar-pelajar yang lain.</p>
<p>Singkat kata, &#8220;Selamat ulang tahun Bike to School! Tetap perjuangkan prinsip yang telah kalian pegang selama ini.</p>
<div id="attachment_481" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/b.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/b.jpg" alt="Bike to School bersama mantan Menristek Kusmayanto Kadiman (ujung kanan)." width="500" height="375" class="size-full wp-image-481" /></a><p class="wp-caption-text">Bike to School bersama mantan Menristek Kusmayanto Kadiman (ujung kanan).</p></div>
<div id="attachment_489" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/d.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/d.jpg" alt="Bike to School saat berkumpul di Bundaran HI" width="500" height="375" class="size-full wp-image-489" /></a><p class="wp-caption-text">Bike to School saat berkumpul di Bundaran HI</p></div>
<div id="attachment_485" class="wp-caption alignnone" style="width: 460px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/c.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/c.jpg" alt="Bersama beberapa anggota Bike to School saat offroaddi telaga warna." width="450" height="600" class="size-full wp-image-485" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama beberapa anggota Bike to School saat offroad di telaga warna.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/setahun-perjuangan-sang-pelajar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Menikmati Bundaran</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/02/selamat-menikmati-bundaran/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/02/selamat-menikmati-bundaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 04:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Anda warga Jakarta, pernahkah Anda mencelupkan kaki anda di dinginnya air mancur Bundaran HI? Atau bergaya di zebra cross Bundaran HI seperti di Abbey Road? Mungkin kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di dalam Mall yang terdapat di sekeliling HI, tanpa pernah menikmati Bundaran HI itu sendiri.
Coba luangkan waktu Anda di setiap hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi Anda warga Jakarta, pernahkah Anda mencelupkan kaki anda di dinginnya air mancur Bundaran HI? Atau bergaya di <em>zebra cross</em> Bundaran HI seperti di Abbey Road? Mungkin kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di dalam Mall yang terdapat di sekeliling HI, tanpa pernah menikmati Bundaran HI itu sendiri.</p>
<p>Coba luangkan waktu Anda di setiap hari Minggu di akhir bulan, karena dari jam 06.00-12.00 Jalan Jendral Sudirman (depan Ratu Plaza) hingga MH.Thamrin (Monas) tertutup untuk kendaraan bermotor dalam rangka Car free Day atau hari bebas kendaraan bermotor. Sebaiknya menikmati ruas Sudirman hingga Thamrin dengan menggunakan sepeda. Jika Anda membawa keluarga dan tidak ingin bersepeda dari rumah, dapat membawa mobil, parkir di FX, atau Gelora Bung Karno, kemudian mulai bersepeda dari sana.</p>
<p>Bagi yang tidak membawa sepeda? Tidak masalah, sekedar jogging dan jalan kaki merupakan alternatif, karena busway tetap beroperasi dan memudahkan Anda menuju HI, Thamrin, atau Monas sekalipun. Sempatkan untuk wisata kuliner di Jalan Sabang, atau Menteng. Selamat Menikmati Bundaran!</p>
<div id="attachment_436" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1.jpg" alt="Bundaran HI menjadi ruang terbuka umum. Bermain bola, piknik, hingga sekedar foto, sebuah wisata yang tidak akan Anda dapatkan di hari biasa" width="500" height="375" class="size-full wp-image-436" /></a><p class="wp-caption-text">Bundaran HI menjadi ruang terbuka umum. Bermain bola, piknik, hingga sekedar foto, sebuah wisata yang tidak akan Anda dapatkan di hari biasa</p></div><br />
<div id="attachment_437" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/2.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/2.jpg" alt="Berbagai jenis sepeda ada di sini, termasuk lowrider yang ekstrim seperti ini." width="500" height="375" class="size-full wp-image-437" /></a><p class="wp-caption-text">Berbagai jenis sepeda ada di sini, termasuk lowrider yang ekstrim seperti ini.</p></div>
<div id="attachment_439" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/3.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/3.jpg" alt="Asiknya bersepeda bersama keluarga. Lupakan Mall, jauh lebih menyenangkan berolahraga bersama." width="500" height="375" class="size-full wp-image-439" /></a><p class="wp-caption-text">Asiknya bersepeda bersama keluarga. Lupakan Mall, jauh lebih menyenangkan berolahraga bersama.</p></div>
<div id="attachment_441" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/4.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/4.jpg" alt="Komunitas sepeda Ontel biasanya berkumpul di depan Grand Hyatt" width="500" height="375" class="size-full wp-image-441" /></a><p class="wp-caption-text">Komunitas sepeda Ontel biasanya berkumpul di depan Grand Hyatt</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/02/selamat-menikmati-bundaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cinderella Jalanan</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/02/cinderella-jalanan/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/02/cinderella-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 14:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama sekali frame sepeda balap tua itu teronggok di gudang rumah. Sedari saya kecil frame itu sudah ada di sana, karatan dan tidak tahu akan diapakan. Itu adalah sepeda balap tua pemberian dari teman Ayah saya yang bahkan mereknya saja saya lupa ( karena tidak sempat saya foto). Semenjak fork sepeda itu patah, otomatis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama sekali frame sepeda balap tua itu teronggok di gudang rumah. Sedari saya kecil frame itu sudah ada di sana, karatan dan tidak tahu akan diapakan. Itu adalah sepeda balap tua pemberian dari teman Ayah saya yang bahkan mereknya saja saya lupa ( karena tidak sempat saya foto). Semenjak <em>fork</em> sepeda itu patah, otomatis nasibnya menjadi salah satu penghuni gudang rumah kami. Mungkin suatu saat akan berakhir di tangan tukang loak. Sampai sebulan lalu Imam, dari redaksi Ridebike mengajak saya membuat sepeda fixie dengan budget murah meriah (maksimal 1,5 juta), terbersit ide untuk membangun kembali si buruk rupa yang teronggok di gudang ini menjadi cantik kembali.</p>
<p>Fixie (<em>fixed gear</em>), yang artinya sepeda dengan sistem <em>gear</em> roda belakang mati. Sistem ini biasa disebut <em>doltrap</em> atau roda gila, kemana pun roda berputar pedal akan mengikutinya baik itu maju ataupun mundur. Sepeda yang menggunakan <em>doltrap</em> dapat berjalan mundur jika digowes terbalik, sistem ini dimiliki oleh rodeo (sepeda roda satu) dan becak. Jadi untuk rem, kita harus memundurkan pedal sekuat mungkin. Kelemahan dari <em>doltrap</em>  adalah saat sepeda melaju dengan kencang, pedal akan berputar sama kencangnya hingga akan susah untuk diberhentikan. Sepeda fixie jenis ini biasanya dilengkapi rem depan.</p>
<p>Seiring dengan selera dan kesukaan sepeda fixie dimodifikasi dengan mengunakan torpedo. Torpedo lebih mudah digunakan dibandingkan doltrap, karena saat ban berputar pedal tidak ikut berputar kecuali jika digowes, dan jika digowes mundur akan mengunci roda sehingga berhenti. </p>
<p>Ada juga hub dengan sistem <em>flip flop</em>. Ini merupakan sistem doltrap dan torpedo dalam satu hub yang dapat diubah-ubah sesuai keinginan hanya dengan membalikkan ban (<em>wheel set</em>). </p>
<p>Jenis hub yang dipakai sepeda pada umumnya di dunia menggunakan jenis <em>free wheel </em>. Jika digowes maju maka roda akan maju, jika digowes mundur tidak berpengaruh terhadap putaran roda, dan menggunakan rem untuk menghentikan roda.</p>
<p><strong>Mengapa diubah menjadi fixie?</strong> Mengapa tidak dijadikan sepeda balap saja? Itulah salah satu pertanyaan teman saya. Alasannya karena membangun fixie jauh lebih murah dan tidak memerlukan <em>spare part</em> mahal, berbeda jika saya membangun sepeda balap dengan <em>part</em> yang berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah.<br />
<strong>Bagaimana mengeremnya?</strong> Dengan digowes mundur. Itulah ciri khas sepeda fixie, dalam hal ini kita harus terbiasa mengerem sepeda dengan digowes mundur, namun demi keamanan tidak ada salahnya juga menambahkan rem depan.<br />
<strong>Mengapa single speed?</strong> karena torpedo, atau pun doltrap tidak dapat menggunakan <em>cassete</em> sebagai salah satu syarat sepeda multispeed, (meskipun ada <em>internal hub</em> 3<em> speed </em>yang menggunakan sistem torpedo) selain itu, karena sepeda fixie bersifat minimalis. Bersih tanpa ada kabel sedikit pun.<br />
<strong>Mengapa harus merakit sendiri?</strong> Karena jauh lebih murah jika kita merakit sendiri. Beberapa merek sepeda seperti Specialized atau Giant mengeluarkan sepeda fixie yang harganya terlampau mahal dibandingkan jika kita merakitnya sendiri dari sepeda tua yang anggarannya dapat diatur sesuai kemampuan kita.<br />
<strong>Haruskah dari frame sepeda balap?</strong>Pada umumnya iya, tetapi frame sepeda gunung pun dapat diubah menjadi fixie. Karena sepeda fixie akan terlihat cantik menggunakan pelek 700 (pelek sepeda balap), maka lebih mudah jika awalnya dimodifikasi dari sepeda balap.<br />
<strong>Apakah harus dari frame besi? </strong> Karena umumnya sepeda fixie dimodifikasi dari sepeda tua yang masih terbuat dari besi agar mudah untuk di las dan dibentuk, lagipula sangat sayang jika Anda memiliki frame balap dengan bahan alumunium atau karbon diubah menjadi fixie (lebih baik tetap menjadi sepeda balap).<br />
<strong>Amankah memakai fixie?</strong> Carilah bengkel fixie yang berpengalaman. Sepeda fixie meskipun ringan namun tidak dirancang untuk kecepatan. Selain karena single speed, doltrap atau torpedo agak susah jika harus rem mendadak, karena itulah demi keamanan dapat menambahkan rem depan. Frame sepeda fixie juga tidak sekuat sepeda gunung saat menghajar lubang dengan kecepatan tinggi. Jika ingin kecepatan, Anda lebih baik memakai sepeda balap.</p>
<p>Frame karatan itu pun akhirnya diangkut ke salah satu bengkel sepeda fixie di daerah Kebayoran Lama. Bengkel yang awalnya bengkel vespa ini, belakangan menjadi bengkel sepeda fixie karena banyaknya permintaan. Dengan dimodifikasi frame dan di cat ulang, kemudian saya membeli beberapa part sepeda dengan harga miring di Taman Sari, total pengeluaran hanya sekitar Rp.1.200.000,-. </p>
<p>Bagi Anda yang memiliki sepeda tua yang sudah karatan, ada baiknya jangan dibuang dahulu. Anda dapat membangunnya kembali menjadi sebuah sepeda cantik yang baru. Beberapa web galeri menampilkan sepeda fixie bisa menjadi referensi anda seperti: http://www.myfixedgear.net/ atau http://charikichi.tumblr.com/ galeri wanita Jepang dengan sepeda fixienya.</p>
<p>Fixie pun siap ditunggangi. Komunitas fixie di Indonesia pun bermunculan, biasanya sering berkumpul di daerah Menteng (Jakarta Pusat) atau di Bundaran HI. Sepeda yang dulunya buruk rupa, kini telah berubah menjadi Cinderella yang cantik. </p>
<div id="attachment_393" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1a.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1a-225x300.jpg" alt="Frame yang sudah di dempul dan diberi cat dasar" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-393" /></a><p class="wp-caption-text">Frame yang sudah di dempul dan diberi cat dasar</p></div>
<div id="attachment_395" class="wp-caption alignnone" style="width: 235px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1b.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1b-225x300.jpg" alt="Part sepeda murah meriah yang dibeli di Tamansari" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-395" /></a><p class="wp-caption-text">Part sepeda murah meriah yang dibeli di Tamansari</p></div><br />
<div id="attachment_397" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1c.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1c-300x209.jpg" alt="Sepeda fixie pun siap ditunggangi" width="300" height="209" class="size-medium wp-image-397" /></a><p class="wp-caption-text">Sepeda fixie pun siap ditunggangi</p></div>
<div id="attachment_399" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1d.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/02/1d-300x225.jpg" alt="Sepeda fixie saya di depan Hotel Nikko" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-399" /></a><p class="wp-caption-text">Sepeda fixie saya di depan Hotel Nikko</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/02/cinderella-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bom Waktu di balik Keindahan Puncak</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/01/bom-waktu-dibalik-keindahan-puncak/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/01/bom-waktu-dibalik-keindahan-puncak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 02:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Saat bersepeda di Puncak dengan udara gunungnya yang begitu sejuk, melewati jalur offroad diantara pucuk-pucuk daun teh, dan jalan-jalan perkampungan yang kadang diapit villa mewah terasa sungguh menyenangkan. Namun saat memasuki kawasan perbatasan dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, saya merasakan aura yang berbeda.
Kawasan Gunung Gede-Pangrango begitu megah dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi, dan suara ngengat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat bersepeda di Puncak dengan udara gunungnya yang begitu sejuk, melewati jalur <em>offroad </em>diantara pucuk-pucuk daun teh, dan jalan-jalan perkampungan yang kadang diapit villa mewah terasa sungguh menyenangkan. Namun saat memasuki kawasan perbatasan dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, saya merasakan aura yang berbeda.</p>
<p>Kawasan Gunung Gede-Pangrango begitu megah dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi, dan suara ngengat yang melengking di siang hari. Inilah wajah sebenarnya dari pegunungan yang kini kian dirusak dengan menjamurnya villa, restoran, <em>factory outlet</em>, maupun perumahan yang pembangunannya tidak memperhatikan tata ruang, struktur tanah, maupun vegetasi alaminya.</p>
<p>Di perbatasan Taman Nasional Gede-Pangrango, pohon-pohon besar yang berdiameter lebih dari 50 cm seperti pzuspa, rasamala, atau damar masih kerap dijumpai. Pohon-pohon besar dengan akar kuat yang didesain untuk hidup di pegunungan agar menahan tanah dan menyerap air sehingga mencegah longsor. Sayangnya pohon-pohon ini semakin jarang terlihat di area pemukiman padat Puncak. Masyarakat kelas atas lebih suka membangun villa mewah yang pekarangannya ditutupi rerumputan untuk bermain golf dan dihiasi dengan pohon palem yang eksotik. Masyarakat sekitar lebih suka menanam pisang ataupun sayuran tanpa memberikan sepetakpun untuk pohon ukuran besar. Perkebunan teh tidak menyelingi perkebunannya dengan pohon-pohon berakar kuat untuk mencegah longsor.</p>
<p>Pohon teh (<em>Camelia sinensis</em>) mungkin mampu menahan tanah agar tidak terjadi erosi dari gerusan air. Tapi bagaimana dengan guncangan gempa? Masih segar dalam ingatan kita saat longsor di Cianjur memakan korban jiwa diakibatkan gempa. Apa yang terjadi jika episentrum gempa terjadi di Jawa Barat yang terkenal akan tanahnya yang labil?</p>
<p>Terakhir saat bersepeda di Puncak, melewati area pemukiman di dekat Taman Safari, saya takjub melihat villa mewah yang dibangun diantara rumah penduduk. Villa bergaya minimalis yang berada di lereng itu berundak-undak seperti sebuah terasering. Saya sempat bertanya kepada teman saya, &#8220;Apakah disini bisa longsor? Mengapa orang berani membangun vila di lereng yang begitu terjal?&#8221; </p>
<p>Tuhan menciptakan pohon-pohon ukuran besar untuk hidup di gunung karena memang pohon-pohon itu mampu menahan tanah jika terjadi gempa vulkanik. Akarnya yang dalam berfungsi menahan air mencegah kekeringan, mencegah erosi agar humus tetap menyuburkan tanah, dan yang terpenting untuk mencegah longsor yang dapat memakan korban jiwa. Ini adalah pelajaran anak SD yang sudah dilupakan manusia dewasa karena dibutakan oleh uang. Selama ini hujan mungkin tidak membuatnya longsor, tetapi bagaimana dengan guncangan gempa? Jika tidak dibenahi, Puncak bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu akan memakan korban jiwa yang begitu banyak.<br />
<div id="attachment_368" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/01/img_18091.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/01/img_18091-225x300.jpg" alt="Inilah vegetasi alami puncak yang seharusnya." width="225" height="300" class="size-medium wp-image-368" /></a><p class="wp-caption-text">Inilah vegetasi alami puncak yang seharusnya.</p></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2010/01/bom-waktu-dibalik-keindahan-puncak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar Baik dari Menegpora</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/12/kabar-baik-dari-menegpora/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/12/kabar-baik-dari-menegpora/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 03:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[
Senang rasanya jika bersepeda kini telah menjadi perhatian para pejabat, terutama sekelas menteri. Kini, tidak hanya kantor dan pusat perbelanjaan yang dilengkapi parkir sepeda, kantor-kantor pemerintahan pun satu persatu mulai menyadari pentingnya keberadaan parkir sepeda. Selain kantor menristek, kini gedung Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang berada di Senayan juga dilengkapi dengan parkir sepeda.
Jumat 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_339" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/12/1.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/12/1-300x225.jpg" alt="Andi Mallarangeng meresmikan parkir sepeda." width="300" height="225" class="size-medium wp-image-339" /></a><p class="wp-caption-text">Andi Mallarangeng meresmikan parkir sepeda.</p></div>
<div id="attachment_341" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/12/2.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/12/2-300x225.jpg" alt="Foto bersama Andi Mallarangeng" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-341" /></a><p class="wp-caption-text">Foto bersama Andi Mallarangeng</p></div>
<p>Senang rasanya jika bersepeda kini telah menjadi perhatian para pejabat, terutama sekelas menteri. Kini, tidak hanya kantor dan pusat perbelanjaan yang dilengkapi parkir sepeda, kantor-kantor pemerintahan pun satu persatu mulai menyadari pentingnya keberadaan parkir sepeda. Selain kantor menristek, kini gedung Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang berada di Senayan juga dilengkapi dengan parkir sepeda.</p>
<p>Jumat 4 Desember 2009, Andi bersama beberapa komunitas sepeda seperti Bike to Work, Kompas Gramedia Cyclist, dan Onthel Batavia, bersepeda  dari rumah dinasnya menuju gedung Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Acara dilanjutkan dengan pemberian sepeda lipat keluaran khusus Bike to Work oleh Toto Sugito kepada Andi sebagai simbolis sepeda pertama yang diparkir disana. </p>
<p>&#8221; Saya senang bersepeda meskipun tidak tiap hari ke kantor menggunakan sepeda, tiap kali dinas ke daerah dan bertemu pejabat disana selalu ditawari, mau naik sepeda Pak?.&#8221; Ucap Andi saat memberikan sambutan. Andi Mallarangeng memang dikenal aktif dalam komunitas Bike to Work, beliau sering mengikuti kegiatan yang diadakan Bike To Work semenjak menjabat jubir presiden. Semoga semangat bersepeda ini akan terus menjalar ke kantor-kantor pemerintahan yang lain, Salam gowes!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/12/kabar-baik-dari-menegpora/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Sepeda di Cilacap (4) Keliling Kota Cilacap</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-4-keliling-kota-cilacap/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-4-keliling-kota-cilacap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 10:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[
Satu hal yang saya sukai dari Cilacap adalah tata kotanya yang rapi. Trotoar selalu ada di sepanjang jalan dan dirawat bersih, jalan-jalan lebar tanpa ada lubang dan lengang dari kendaraan bermotor. Sayangnya di kota ini saya tidak menemukan rental sepeda, padahal jika disinergikan, turis-turis yang datang menggunakan kereta akan mudah mengelilingi kota Cilacap mengunakan sepeda. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_286" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/1.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/1-300x225.jpg" alt="Para nelayan melaut di pagi hari" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-286" /></a><p class="wp-caption-text">Para nelayan melaut di pagi hari</p></div>
<div id="attachment_298" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/5.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/5-300x225.jpg" alt="Tata ruang kota begitu teratur. Pusat perbelanjaan berada dalam satu kompleks hingga memudahkan turis." width="300" height="225" class="size-medium wp-image-298" /></a><p class="wp-caption-text">Tata ruang kota begitu teratur. Pusat perbelanjaan berada dalam satu kompleks hingga memudahkan turis.</p></div>
<div id="attachment_295" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/4.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/4-300x225.jpg" alt="Alun-alun kota, dengan latar belakang Masjid Agung Darussalam Cilacap" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-295" /></a><p class="wp-caption-text">Alun-alun kota, dengan latar belakang Masjid Agung Darussalam Cilacap</p></div>
<div id="attachment_291" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/2.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/2-300x225.jpg" alt="Di tengah pusat kota, jalan yang lenggang dan tertib membuat saya jatuh cinta bersepeda di Cilacap." width="300" height="225" class="size-medium wp-image-291" /></a><p class="wp-caption-text">Di tengah pusat kota, jalan yang lenggang dan tertib membuat saya jatuh cinta bersepeda di Cilacap.</p></div>
<div id="attachment_302" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/6.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/6-300x225.jpg" alt="Di pusat kota Cilacap" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-302" /></a><p class="wp-caption-text">Di pusat kota Cilacap</p></div>
<div id="attachment_293" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/3.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/3-225x300.jpg" alt="Beton penghalang ombak yang dimanfaatkan sebagai jalur joging." width="225" height="300" class="size-medium wp-image-293" /></a><p class="wp-caption-text">Beton penghalang ombak yang dimanfaatkan sebagai jalur joging.</p></div>
<p>Satu hal yang saya sukai dari Cilacap adalah tata kotanya yang rapi. Trotoar selalu ada di sepanjang jalan dan dirawat bersih, jalan-jalan lebar tanpa ada lubang dan lengang dari kendaraan bermotor. Sayangnya di kota ini saya tidak menemukan rental sepeda, padahal jika disinergikan, turis-turis yang datang menggunakan kereta akan mudah mengelilingi kota Cilacap mengunakan sepeda. Bagi saya kota ini tidak memerlukan rental kendaraan bermotor, mengingat luasnya yang tidak seberapa dan berada di tepi pantai.</p>
<p>Di hari kedua, pagi-pagi buta pantai Kemiren dipenuhi warga yang berolahraga. Bagi Anda yang memiliki asma, udara segar dari Samudra Hindia obat yang sepertinya mujarab. Beberapa hari sebelum berangkat ke Cilacap saya sempat didera batuk dan sakit tenggorokan, hebatnya begitu pulang dari Cilacap seketika juga sembuh, padahal tidak meminum obat sedikit pun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-4-keliling-kota-cilacap/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati sepeda di Cilacap (3) Pesona Kemiren</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-3-pesona-kemiren/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-3-pesona-kemiren/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 05:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menempuh 54 kilometer dari Purwokerto, akhirnya kami pun sampai di gerbang kota Cilacap. Senang, ditambah semangat karena kaki ini terasa tidak sabar menyentuh Pantai Kemiren yang terkenal di Cilacap. Saat itu hari sudah senja, mungkin sekitar jam 17.00 WIB. Udara di Cilacap saat itu terasa dingin, karena pada musim-musim tertentu angin dari samudra Hindia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menempuh 54 kilometer dari Purwokerto, akhirnya kami pun sampai di gerbang kota Cilacap. Senang, ditambah semangat karena kaki ini terasa tidak sabar menyentuh Pantai Kemiren yang terkenal di Cilacap. Saat itu hari sudah senja, mungkin sekitar jam 17.00 WIB. Udara di Cilacap saat itu terasa dingin, karena pada musim-musim tertentu angin dari samudra Hindia membawa suhu dingin.<br />
<a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/gerbang-kota-cilacap.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/gerbang-kota-cilacap.jpg" alt="" width="400" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-272" /></a></p>
<p><div id="attachment_268" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/pantai-kemiren.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/pantai-kemiren.jpg" alt="Pantai Kemiren begitu sepi, pantai publik yang begitu indah, tidak kalah dengan Kuta." width="400" height="300" class="size-full wp-image-268" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Kemiren begitu sepi, pantai publik yang begitu indah, tidak kalah dengan Kuta.</p></div><br />
Pantai Kemiren begitu indah, pasirnya memang lebih hitam karena banyak mengandung besi. Sepanjang mata ini memandang, garis pantai tidak dikapling-kapling seperti di Anyer. 100% merupakan pantai publik yang dinikmati oleh masyarakatnya. Sungguh ironis mengingat di Jakarta sendiri masyarakatnya tidak bisa menikmati pantai publik secara gratis, kehilangan haknya sebagai masyarakat yang hidup di pesisir.</p>
<p><div id="attachment_270" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/pembangkit-listrik-di-cilacap.jpg"><img src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/pembangkit-listrik-di-cilacap.jpg" alt="Pembangkit listrik Cilacap, yang terletak di dekat Kemiren." width="400" height="300" class="size-full wp-image-270" /></a><p class="wp-caption-text">Pembangkit listrik Cilacap, yang terletak di dekat Kemiren.</p></div><br />
Jika anda berkunjung ke Cilacap, pastikan untuk singgah di Teluk Penyu yang tidak jauh dari pantai Kemiren. Karena letaknya di teluk, ombaknya relatif lebih tenang. Teluk Penyu merupakan pusat wisata pantai Cilacap, disini banyak restoran <em>seafood</em>, toko cinderamata dan jasa penyebrangan menuju Nusakambangan. Untuk menyebrang ke Nusakambangan cukup merogoh kocek Rp.10.000,-.<br />
Karena hari sudah larut, kami memutuskan untuk kembali ke pantai ini besok, dan bergegas menuju ke hotel.</p>
<p>Bersambung&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-3-pesona-kemiren/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati sepeda di Cilacap (3) Liukan Serayu</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-3-liukan-serayu/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-3-liukan-serayu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 05:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[
Di tepinya Sungai Serayu
Waktu fajar menyingsing
Pelangi merona warnanya
Nyiur melambai-lambai
Warna air sungai nan jernih
Beralun berkilauan
Sepenggal lirik lagu &#8220;Di Tepinya Sungai Serayu&#8221; mengiang-ngiang di kepala sembari saya menikmati pemandangan yang persis digambarkan dalam lirik lagunya. Berhulu di dataran tinggi Dieng, membelah beberapa daerah seperti Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap, Serayu menjadi urat nadi kehidupan bagi daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_200" class="wp-caption alignleft" style="width: 340px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/picture-072.jpg"><img class="size-medium wp-image-200" src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/09/picture-072-300x236.jpg" alt="Pemandangan di tepi Sungai Serayu" width="300" height="236" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan di tepi Sungai Serayu</p></div>
<p><em>Di tepinya Sungai Serayu<br />
Waktu fajar menyingsing<br />
Pelangi merona warnanya<br />
Nyiur melambai-lambai<br />
Warna air sungai nan jernih<br />
Beralun berkilauan</em></p>
<p>Sepenggal lirik lagu &#8220;Di Tepinya Sungai Serayu&#8221; mengiang-ngiang di kepala sembari saya menikmati pemandangan yang persis digambarkan dalam lirik lagunya. Berhulu di dataran tinggi Dieng, membelah beberapa daerah seperti Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap, Serayu menjadi urat nadi kehidupan bagi daerah yang dilaluinya.</p>
<p>Roda ini terus berputar, kaki ini terus mengayuh, mata ini terus memandang, dan hati ini terus bergumam betapa indahnya Serayu. Saat berada di atas jembatan, kami menepi sesaat untuk mengambil gambar. Saat itu Sungai Serayu berwarna kehijauan, airnya tenang tanpa arus. Di beberapa tempat tampak beberapa penambang pasir bergulat di bawah teriknya matahari.</p>
<p>Saat bersepeda beberapa kilometer saya mengerem kembali roda, karena tercengang terbentuknya delta di tengah sungai bagaikan pulau kecil yang ditumbuhi pohon rindang. Sebagai warga Jakarta saya sangat iri, bahkan terkesan norak melihat sungai yang begitu indah (karena berhenti dan berfoto-foto ria), maklum semenjak saya dilahirkan di Jakarta saya tidak pernah melihat sungai yang airnya begitu jernih dan bersih di kota kelahiran saya.</p>
<p>Bagi anda yang bersepeda dari Purwokerto menuju Cilacap, bersiaplah disambut pemandangan indah sungai Serayu. Jalur yang kami lewati cenderung sepi meskipun tetap harus berhati-hati karena adanya truk penambang pasir dan bus antarkota. Terutama di sepanjang Serayu jalan berkelok-kelok mengikuti bukit dan aliran sungai membuat tikungan jalan begitu tajam. Kondisi jalan sangat bagus, jarang terlihat lubang. Jangan lupa membawa GPS untuk mencari jalur alternatif. Perjalanan menuju Cilacap masih panjang dan terima kasih Serayu telah menemani perjalanan ini.<br />
Bersambung&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/09/menikmati-sepeda-di-cilacap-3-liukan-serayu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati sepeda di Cilacap (2) Soto Sungeb di Purwokerto</title>
		<link>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/08/menikmati-sepeda-di-cilacap-2-soto-sungeb-di-purwokerto/</link>
		<comments>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/08/menikmati-sepeda-di-cilacap-2-soto-sungeb-di-purwokerto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 13:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fredy Susanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[
Purwokerto, ini pertama kalinya saya memijak kaki di kota kelahiran Mayangsari. Jalan-jalan sekitar stasiun lengang dan tertib meskipun matahari serasa memelototi kepala kami, rasa senang ini membuat lupa panas di atas ubun-ubun kepala. Deretan becak diparkir rapi di depan stasiun, sekilas tampak satu dua angkot yang lalu lalang tanpa ngetem merajalela. Udara di kota ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_144" class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><a href="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/08/picture-035.jpg"><img class="size-medium wp-image-144" src="http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/files/2009/08/picture-035-197x300.jpg" alt="Warung Soto Sungeb 1 dan penampilan si sroto yang membuat saya kangen Purwokerto." width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Warung Soto Sungeb 1 dan penampilan si sroto yang membuat saya kangen Purwokerto.</p></div>
<p>Purwokerto, ini pertama kalinya saya memijak kaki di kota kelahiran Mayangsari. Jalan-jalan sekitar stasiun lengang dan tertib meskipun matahari serasa memelototi kepala kami, rasa senang ini membuat lupa panas di atas ubun-ubun kepala. Deretan becak diparkir rapi di depan stasiun, sekilas tampak satu dua angkot yang lalu lalang tanpa ngetem merajalela. Udara di kota ini masih begitu bersih mengingatkan betapa sumpeknya paru-paruku menghirup asap hitam pekat di ibukota. </p>
<p>Hei&#8230;.kami tidak akan memulai perjalanan sebelum mengisi &#8220;&#8216;bahan bakar&#8221;. Karena sudah terlebih dahulu survei sana sini, kami langsung menuju ke tempat makan yang terkenal di kota ini.</p>
<p>Soto Sungeb 1, warung yang khusus menyajikan soto sukoraja ini—yang biasa disingkat sroto terletak di Jl. Bank yang sebenarnya bernama Jl.RA.Wirjaatmaja, namun lebih terkenal dengan Jalan Bank karena adanya Museum Bank di ujung jalan ini. Soto Sungeb 1 lah yang asli didirikan oleh Pak Sungeb pelopor warung sroto di jalan ini. Kami sempat terkecoh karena ada beberapa warung sroto sejenis yang sebenarnya sama saja karena beberapa diantaranya dijalankan oleh generasi penerus Pak Sungeb.</p>
<p>Soto Sungeb 1 ini terletak di samping gang kecil. Bangunannya tidaklah besar mungkin luasnya sekitar 4m x 12m dengan bentuk bangunan yang memanjang ke belakang. Papan namanya berhasil menjadi identitas visual warung ini bagi orang yang pertama kali datang ke Purwokerto seperti kami.</p>
<p>&#8220;Lima sotonya Pak!&#8221; Ucap teman saya tanpa berbasa-basi usai memarkir sepeda. Warung sroto ini selalu ramai, untungnya saat itu tidak begitu ramai dan masih ada beberapa tempat duduk yang kosong.</p>
<p>&#8220;Wahh..&#8221; Kata pertama yang keluar dari mulut saya saat pertama kali melihat hidangan sroto di atas meja. Dengan potongan mie kuning yang dilengkapi irisan daging sapi dan ayam kampung. Tidak lupa ditaburi daun bawang, bawang goreng dan potongan kerupuk kecil berbentuk seperti mie, dan kerupuk biasa yang berwarna merah jambu membuat penampilan sroto semakin aduhai. Saat mulai mengaduk, di bagian bawahnya terdapat potongan lontong, inilah pertama kali saya menyantap perpaduan lontong dengan soto. Kuahnya sendiri begitu gurih perpaduan antara kaldu ayam dan sapi yang begitu sempurna. Bagaimana dengan sambalnya??? Si pemedas lidah ini tampil berbentuk seperti sambal pecel yang terbuat dari kacang diolah halus berpadu dengan rempah dan cabai.</p>
<p>&#8220;<em>This is manna from heaven</em>.&#8221; Saya tidak berlebihan, semua teman saya sepakat dengan kelezatan soto ini saat bersentuhan dengan lidah. Di tetesan kuah terakhir, perut ini masih menjerit serasa tak puas. Empat dari total lima peserta rombongan kami sepakat tambah seporsi lagi, saya salah satunya.</p>
<p>Puas mengisi &#8220;bahan bakar&#8221;, kami bersiap-siap untuk memulai perjalanan menuju Cilacap. Sroto memulai manis perjalanan ini.</p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putaranroda.blog.nationalgeographic.co.id/2009/08/menikmati-sepeda-di-cilacap-2-soto-sungeb-di-purwokerto/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
